Anabul.web.id – Coba bayangkan situasi ini: ada yang posting foto anjing lucu di Instagram dengan caption, “Nemenin anabul jalan-jalan sore.” Pasti di kolom komentar bakal ada satu atau dua netizen Indonesia yang nyeletuk, “Eh, bukannya anabul itu sebutan buat kucing?” Jangan heran, mayoritas orang kita, gelar “anabul” sudah terlanjur diakuisisi penuh oleh kucing. Ketika anjing atau kelinci ikut dipanggil begitu, rasanya seperti minjam baju orang lain. Padahal secara harfiah, mereka kan juga sama-sama “anak bulu”.
Kenapa Anjing Juga Disebut Anabul?
Anabul adalah cara orang Indonesia menyingkat “anak bulu”. Bukan nama ras, bukan gelar resmi, dan tidak ada sertifikat yang harus dilampirkan sebelum kata itu boleh dipakai. Media nasional sudah berkali-kali menuliskannya begitu: sebutan sayang untuk hewan rumahan yang berbulu, dari kucing, anjing, sampai kelinci dan hamster.
Yang bikin istilah ini terasa “punya kucing” lebih karena kebiasaan bicara, bukan karena definisinya sempit. Di kalangan cat lover, anabul sudah lama jadi panggilan harian. Pengurus Indonesian Cat Association cabang Solo pernah menjelaskan ke Radar Solo bahwa itu cuma cara menyebut anak berbulu supaya kedengarannya lebih lucu, dan boleh dipakai untuk kucing kampung sampai yang harganya puluhan juta. Karena kucing lebih sering nongol di linimasa kita, otak kita otomatis mengaitkan kata itu ke mereka.
Memanggil anjing sebagai anabul mengubah sedikit cara kita memandangnya. Kata “anjing” di Indonesia kadang masih ketempel stigma jadul: galak, kotor, atau cuma buat jaga pagar. “Anabul” mengecualikan itu. Ada rasa sayang di dalamnya, seperti sedang bilang ini bukan sekadar hewan peliharaan, ini anggota rumah yang kebetulan berbulu dan punya ekor. Orang yang menulis “anjing anabul” di kolom pencarian biasanya bukan sedang mencari definisi kamus. Mereka mau tahu apakah anjing memang boleh masuk kategori itu, jenis apa yang masuk akal untuk dipelihara, dan seperti apa rasanya hidup bareng makhluk yang lebih ramai daripada kucing.
Rasanya, kalau boleh jujur, lebih ramai. Kucing bisa menghilang tiga jam di bawah kasur dan sering “quality time”. Anjing jarang bisa begitu. Mereka menandai kepulanganmu seperti peristiwa. Pintu belum kebuka penuh, cakar sudah berbunyi di keramik. Bagi sebagian orang, sambutan itu adalah obat capek.
Kebanyakan pawrent lakukan akhirnya sederhana: jalan pagi sebelum berangkat, atau malam habis magrib. Kalau hujan, masalahnya ganti baju. Bulu basah, cakar bawa lumpur, dan bau “habis main di selokan” yang nempel. Handuk khusus anjing pun jadi benda yang harus ada, bukan gaya-gayaan. Anabul anjing di rumah tropis hidupnya ngikut cuaca, bukan ngikut video media sosial.
Soal makan, godaan terbesar biasanya dari meja. Mata anjing yang menatap sisa makanan itu justru senjatanya. Tapi tubuh mereka bukan tempat buang nasi, tulang, dan sambal. Sekali-kali kelihatan kuat, besoknya bisa diare dan kita sendiri yang panik cari klinik. Camilan boleh, asal nggak jadi menu utama tiap waktu makan. Tulang ayam yang renyah di mulut manusia bisa jadi masalah di perut anjing. Indomie, bumbu instan, makanan asin, apalagi cokelat. Anjing kampung aja yang dibilang “kuat kok” tetap aja bisa “KO”. Kuat bukan artinya kebal sama pola makan yang kacau tiap hari.
Gonggongan adalah bab yang paling sering bikin orang menyesal. Anjing nyalak karena ada tamu, karena bosan, karena anjing sebelah nyalak duluan, atau karena kita terlalu lama di kamar mandi menurut hitungan mereka. Mengajar “ssst” butuh diulang, bukan sekali disemprot air lalu berharap langsung lulus. Karena ini soal tetangga. Pintu yang diketuk pelan tengah malam biasanya bukan karena tetangga benci anjingnya. Mereka cuma mau istirahat.
Ikatan sama anjing di rumah sini juga beda rasanya dengan yang sering digambar di film. Tidak ada halaman luas yang hijau. Yang ada seringnya jalan keliling kompleks, muter-muter gang, atau cuma main lempar sendal di teras. Anjing tetap mau diajak kerja sama. Mereka bisa belajar duduk, tunggu, atau jalan tanpa narik tali sampai bahu kita copot. Prosesnya tidak ajaib. Lima menit yang diulang tiap hari biasanya lebih nempel daripada satu kali latihan panjang pas weekend, lalu enam hari berikutnya dibiarkan. Banyak yang kaget karena kira “pintar’ artinya anjing langsung ngerti bahasa kita.
Milih anabul anjing yang cocok juga bukan lomba terlucu di beranda media sosial. Anjing ukuran kecil tidak otomatis mudah. Ada yang cerewet, susah disisir, dan tetap butuh diajak keluar. Anjing besar tidak otomatis susah, asal memang ada waktu dan ada tempat yang tidak bikin dia terkurung seharian. Anjing kampung sering dilewatkan karena tidak punya nama ras diatas kertas, padahal banyak yang sudah terbiasa dengan panas, keramaian motor, dan gaya hidup rumah di sini. Makanya kenalan dulu. Perhatikan apakah dia panik kalau ditinggal sebentar, apakah dia langsung narik tali, apakah dia nyaman dipegang.
Kesehatan juga tidak bisa ditunda sampai “nanti kalau udah settle”. Vaksin, obat cacing, dan urusan kutu bukan asesoris. Anjing yang kelihatan sehat hari ini tetap perlu diperiksa kalau tiba-tiba tidak mau makan, muntah berulang, atau lemas tanpa sebab yang kelihatan. Klinik hewan di kota makin banyak, tapi antrean dan biayanya tetap bikin mikir dua kali.
Satu hal yang sering bikin anjing “bandel” sebenarnya datang dari dalam rumah sendiri. Hari ini dilarang naik sofa. Besok diajak naik. Lusa dimarahi lagi karena naik. Dari sudut anjing, sofa itu wilayah yang aturannya berubah-ubah, jadi layak ditawar ulang. Kalau satu orang ngasih sisa ayam diam-diam dan yang lain melarang, dia akan hafal siapa yang lebih mudah diluluhkan. Keluarga yang omongannya sama biasanya dapat anabul yang lebih tenang. Bukan karena jenisnya ajaib, tapi karena rumahnya tidak seperti peraturan yang beda tiap saat.
Di internet, “anjing anabul” sering dipakai menjadi stiker. Singkat, dan gemas. Di rumah, stiker itu nempel pada kaki yang harus dilap, jadwal jalan yang tidak bisa ditunda cuma karena malas, dan tetangga yang berhak tidak ingin tidurnya diganggu. Dua sisi itu bisa hidup bareng. Kamu boleh tetap memanggilnya anabul dengan suara manja. Asal kamu juga mau jadi orang yang bangun sedikit lebih pagi karena dia perlu buang air.
Jadi, anjing masuk ke dalam kata anabul bukan karena kalah saing sama kucing di linimasa. Mereka masuk karena mereka juga anak bulu yang tinggal di rumah yang sama, makan dari tangan yang sama, dan mengubah suasana begitu mereka ada. Kalau kamu mencari “anjing anabul” karena penasaran apakah sebutan itu boleh, jawabannya boleh. Kalau kamu mencari karena sedang menimbang untuk memelihara, pertanyaannya sudah bergeser. Bukan “apakah anjing boleh disebut anabul”, melainkan “apakah rumah, waktu, dan kesabaranmu siap untuk anabul yang akan nunggu di pintu setiap kali kamu pulang”.
Kalau jawabannya ya, rumah biasanya jadi lebih berisik, lebih berbulu, dan lebih sulit ditinggal lama-lama. Kalau jawabannya belum, menunda bukan kalah. Anabul anjing tidak kehabisan tahun. Mereka cuma tidak bisa dijeda seperti cerita.
Kesimpulan.
Anjing disebut anabul karena kata itu memang panggilan sayang untuk hewan berbulu, bukan cap khusus untuk kucing. Di obrolan sehari-hari kucing lebih dulu nempel, tapi anjing sama sahnya. Yang beda bukan labelnya, melainkan cara hidupnya di rumah kita: lebih ramai, lebih butuh waktu, lebih terasa di suara dan komitmen bertahun-tahun adalah bagian yang tidak kelihatan di caption lucu. Panggil saja anabul, asal kamu juga siap menemani anak bulu yang jarang mau diam kalau kamu baru pulang.
Sumber & Referensi.
- ASPCA, General Dog Care. www.aspca.org.
- ASPCA, House Training Basics. www.aspca.org.
- Radar Solo, penjelasan pengurus ICA Solo tentang anabul sebagai sebutan anak bulu. radarsolo.jawapos.com.
Catatan Penting: Setiap hewan memiliki kondisi, kebutuhan, dan respons yang berbeda. Informasi di Anabul.web.id ditujukan untuk memberikan pengetahuan umum mengenai perawatan, nutrisi, perilaku, dan kesehatan hewan peliharaan berdasarkan sumber yang kami rujuk. Informasi tersebut bukan merupakan pengganti konsultasi atau pemeriksaan dokter hewan. Sebelum memberikan obat, suplemen, melakukan perubahan pola makan, atau mengambil keputusan terkait kondisi kesehatan hewan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter hewan. Segala keputusan dan tindakan yang diambil berdasarkan informasi di situs ini menjadi tanggung jawab pembaca.
Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.
